Penadaran (31/03/2026) – Geliat aktivitas pertanian terlihat di hamparan areal persawahan Desa Penadaran. Para petani mulai memasuki Musim Tanam (MT) II. Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian petak sawah telah ditanami padi, sebagian lainnya masih dalam proses penanaman bibit, sementara lahan lainnya masih dalam tahap persiapan.
Ahmad Saryadi, salah seorang petani padi di Desa Penadaran yang tengah melakukan penanaman, menjelaskan hasil yang diperolehnya pada musim tanam sebelumnya sekaligus harapannya pada MT II. Ia menyampaikan bahwa nilai jual gabah pada musim lalu bervariasi dan dipengaruhi oleh kondisi alam.
“Pada MT I kemarin, harga gabah berada di kisaran Rp 6.100 per kilogram untuk lahan yang sempat terkena banjir. Sementara itu, untuk lahan yang aman dari banjir, harganya lebih tinggi, mencapai Rp 6.500 per kilogram,” jelasnya.
Memasuki MT II, tantangan utama yang kemungkinan dihadapi petani adalah ketersediaan air. Hal ini sejalan dengan prediksi BMKG mengenai potensi minimnya curah hujan pada musim tanam kali ini. Meski demikian, para petani di Penadaran umumnya telah menyiapkan langkah antisipatif.
Untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi, petani mengandalkan bantuan mesin pompa air dengan memanfaatkan sumber air dari aliran Sungai Tuntang. Upaya ini dilakukan guna memastikan lahan tetap terairi di tengah kondisi cuaca yang panas.
Lebih lanjut, disampaikan harapan besar pada MT II ini agar hasil panen dapat lebih melimpah dibanding musim sebelumnya, tanaman padi terhindar dari serangan hama, serta distribusi pupuk dan sarana produksi pertanian (saprodi) tetap lancar dan terpenuhi seperti biasa.
Sebagai penutup, memasuki Musim Tanam II ini menjadi momentum penting bagi para petani Desa Penadaran untuk kembali menguatkan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Dengan kerja keras, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai, diharapkan seluruh proses tanam hingga panen dapat berjalan lancar dan menghasilkan panen yang optimal.
Korespondens: Ahmad Saryadi