Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan
Penadaran (17/03/2026) – Suasana khidmat menyelimuti Mushola Nurul Anwar, Dusun Tempel, Desa Penadaran pada Senin malam (16/03/2026). Jamaah mushola tampak berkumpul untuk mengikuti tradisi Pitulikuran, sebuah tradisi yang secara turun-temurun dilaksanakan masyarakat pada malam ke-27 bulan suci Ramadhan.
Istilah Pitulikuran berasal dari bahasa Jawa, yakni pitu yang berarti tujuh dan likur yang berarti dua puluh, sehingga merujuk pada malam ke-27 Ramadhan. Malam tersebut diyakini sebagai salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang memiliki keistimewaan tersendiri karena berpotensi menjadi malam Lailatul Qadar. Pada malam-malam ganjil tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah guna meraih keberkahan Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Rangkaian kegiatan Pitulikuran diawali dengan pelaksanaan salat Isya, kemudian dilanjutkan dengan salat Tarawih dan Witir secara berjamaah. Setelah rangkaian salat selesai, jamaah melanjutkan kegiatan dengan khataman Al-Qur’an sebagai simbol selesainya rangkaian tadarus yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Suasana mushola semakin syahdu ketika para jamaah bersama-sama melantunkan tahlil, zikir, serta doa yang dipanjatkan untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan diterimanya seluruh amal ibadah selama bulan suci Ramadhan.
Selain rangkaian ibadah, tradisi Pitulikuran juga diwarnai dengan kegiatan membawa berkat. Setiap kepala keluarga datang ke mushola dengan membawa kotak nasi atau besek berisi makanan hasil olahan dari rumah masing-masing. Berkat tersebut kemudian dikumpulkan dan, setelah doa bersama selesai, dibagikan kembali kepada seluruh jamaah yang hadir.
Salah satu jamaah mushola, Wiratmoko, menyampaikan bahwa kegiatan Pitulikuran merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. “Melalui kegiatan ini, kita berharap mendapatkan keberkahan di bulan Ramadhan, termasuk keberkahan malam Lailatul Qadar, serta semakin memperkuat tali silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan tradisi Pitulikuran ini, diharapkan semangat beribadah masyarakat tetap terjaga hingga akhir Ramadhan. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari warisan budaya religius yang terus dilestarikan oleh warga sebagai wujud kebersamaan dalam menjalani ibadah serta menjaga nilai-nilai kebudayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Koresponden : Wiratmoko
18 September 2025
3.127 Kali
19 Agustus 2025
1.864 Kali
22 Agustus 2025
1.287 Kali
07 Agustus 2025
997 Kali
26 Oktober 2025
864 Kali
18 Juli 2025
604 Kali
09 September 2025
539 Kali
Gubug - Grobogan
Surat Keterangan Domisili
Surat Pengantar SKCK
Surat Keterangan Usaha
Surat Keterangan Kelahiran
Surat Keterangan Kematian
Dan Lain-lainnya
Hubungi Perangkat Desa untuk mendapatkan PIN anda...
Laki-laki
Perempuan
BELUM MENGISI
TOTAL


Susanto
16 September 2025 14:58:31
Masaallah luar biasa tak sawang sawang kok ada ustd UJ ya apa masih krabat nya atau ponakan nya UJ...